Home » Kelezatan Nasi Jamblang Dibalik Daun Jati

Kelezatan Nasi Jamblang Dibalik Daun Jati

oleh Muhammad Bintang Maitreyya

Dibungkus daun jati, dengan beragam pilihan lauk-pauk, menjadi keunikan kuliner ini. Sudah hadir sejak zaman kolonial.

Jika Anda sedang melintas Cirebon, rehatlah sejenak untuk menikmati sega jamblang atau nasi jamblang, salah satu kuliner khas kota berjuluk Kota Udang ini.

Tersedia 40 jenis lauk yang bisa dipilih sendiri

Bergaya masakan rumahan dengan penyajian prasmanan, nasi jamblang menawarkan setidaknya 40 jenis lauk-pauk yang disajikan di atas meja. Anda bebas mengambil sesuai selera. Ciri khas lainnya, nasi dibungkus dengan daun jati. Penggunaan daun menghasilkan rasa gurih dan aroma sedap. Selain itu, menahan nasi tidak mudah basi.

“Bagi mereka yang baru pertama kali menikmati nasi jamblang, tekstur daun jati yang kasar dan kaku memang terasa aneh. Namun, hal itu tidak akan menurunkan kenikmatan dari nasi jamblang,” ungkap Murdijati Gardjito.

Nasi jamblang sama sekali tak berkaitan dengan buah jamblang alias duwet (Syzygium cumini). Sega jamblang konon berasal dari nama sebuah desa di sebelah barat Kabupaten Cirebon, yakni Desa Jamblang.

Dibungkus daun jati untuk membuat nasi tahan lebih lama

Jamblang merupakan salah satu pemukiman Tionghoa kuno yang terbentuk karena aktivitas perdagangan. Menurut Rusyanti dari Balai Arkeologi Bandung dengan ditemukannya bukti – bukti arkeologis berupa pecahan keramik, catatan angka tahun di tembok salah satu gudang tua di Jamblang dan keberadaan klenteng menandai eksistensi pemukim Tionghoa di daerah tersebut.

Rusyanti memperkirakan orang-orang Tionghoa di Jamblang berasal dari pemukiman Tionghoa di Lemahwungkuk di sekitar Pasar Kanoman yang dikenal sebagai Pecinan atau pemukim Tionghoa lain di sekitar wilayah pesisir pantai utara Jawa.

Pengunjung mengambil nasi dan lauk secara prasmanan

“Melalui jalur sungai mereka menuju pedalaman dan membentuk permukiman. Selain melalui sungai, pembuatan Groote postweg pada abad ke-18 juga turut mempermudah akses mereka ke daerah-daerah lain di Lemahwungkuk,” kata Rusyanti.

Groote postweg atau Jalan Raya Pos yang membentang dari Anyer sampai Panarukan dibangun semasa Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels, selama kurang lebih satu tahun (1808-1809).

Menurut Yoyon Indrayana dan Tri Yuniningsih dalam Sega Jamblang, Ikon Kuliner Pengembangan Pariwisata Kota Cirebon, sebetulnya para pekerja membawa bekal nasi dari rumah. Namun, nasi menjadi basi setelah lebih dari 10 jam. Orang Jamblang kemudian menemukan cara agar nasi tak cepat basi. Yakni, membungkusnya dengan daun jati.

“Setelah peristiwa tersebut, untuk selanjutnya orang-orang Jamblang selalu menggunakan daun pohon jati untuk membungkus nasi,” tulis Yoyon Indrayana dan Tri Yuniningsih.

Beragam lauk yang menggiurkan

Ada riwayat lain tentang asal-usul nasi jamblang. Menurut cerita tutur masyarakat, nasi jamblang merupakan konsumsi pasukan Cirebon yang berperang melawan Belanda pada Perang Kedondong (1753-1773). Perang ini dipicu kebijakan pajak yang amat tinggi. Rakyat Cirebon melakukan perlawanan dengan basis perjuangan berada di Jamblang.

“Sega jamblang itu menu sisa Perang Kedondong,” tutur Suryanatha Harya, salah satu trah Sultan Sepuh IV.

Versi lain yang lebih populer mengaitkan nasi jamblang dengan pembangunan pabrik gula di Gempol dan Plumbon serta pabrik spiritus di Palimanan pada abad ke-19. Proyek itu menyerap banyak pekerja dari Cirebon dan daerah sekitarnya. Namun banyak pekerja kesulitan untuk mencari warung makan untuk mengisi perut.

Pengusaha setempat bernama H. Abdulatif (Ki Antra) dan istrinya, Tan Piauw Lun (Mbah Pulung), mengulurkan tangan dengan membagikan gratis beberapa bungkus nasi dengan lauk-pauk secukupnya. Nasi itu dibungkus daun jati. Kebaikan hati pasangan ini menyebar dari mulut ke mulut. Banyak pekerja datang untuk makan dengan membayar ala kadarnya.

Nasi jamblang yang legendaris

“Kegiatan ini menjadi cikal bakal usaha warung nasi jamblang Nyonya Pulung,” tulis Mustajab dalam Koki Kumis dan Lima Cerita Kuliner.

Nyonya Pulung memutuskan membuka usaha nasi jamblang di dekat rumahnya di Blok Cengkang Barat Jamblang. Usaha itu dikelola turun-temurun. Sekarang warung itu berganti nama menjadi Restoran Nasi Jamblang Tulen yang berlokasi di depan Pasar Jamblang.

Menurut Ema Triwahyuni dalam Analisis Kepuasan Konsumen terhadap Restoran Nasi Jamblang Tulen di Cirebon Jawa Barat, awalnya nasi jamblang dijajakan para pedagang keliling yang disebut pengeber. Dengan cara itu pula nasi jamblang dikenal luas dan menjadi popular.

“Seiring perkembangan zaman, muncul pengusaha-pengusaha baru dengan berbagai macam latar belakang. Pola penjualan melalui pengeber sudah digantikan dengan munculnya warung kaki lima maupun restoran khas nasi jamblang yang besar dan megah. Begitu juga dengan menu masakan menjadi lebih bervariasi,” tulis Ema Triwahyuni.

Selain Nasi Jamblang Tulen, kini ada banyak pilihan tempat untuk menyantap nasi jamblang. Sebut saja Nasi Jamblang Mang Dul yang sudah ada sejak 1970-an dan selalu penuh sesak. Nasi Jamblang Ibu Nur juga sangat dikenal dan kerap ramai dikunjungi para pecinta kuliner. (mb/dsn-3)

Related Posts

Tinggalkan Komentar