Home » Diamondfair Dukung Gerakan Penganekaragaman Konsumsi Pangan

Diamondfair Dukung Gerakan Penganekaragaman Konsumsi Pangan

oleh Citra Sythiarini

PT Diamondfair Ritel Indonesia, anak usaha milik Diamond Group yang berfokus pada ritel online – offline, berpartisipasi dalam acara yang diselenggarakan Badan Pangan Nasional (BPN), pada Minggu (31/7).

Kegiatan yang diselenggarakan di Plaza Barat Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, terdiri dari berbagai acara menarik di antaranya talkshow Hidup Sehat Aktif dan Produktif, senam pagi, demo masak dan bazaar pangan sehat. Sedangkan tema besar yang digagas BPN di event ini, adalah Gerakan Penganekaragaan Konsumsi Pangan B2SA.

Arief Prasetyo Adi, Kepala BPN, menjelaskan Pemerintah Indonesia saat ini menghadapi tiga ancaman krisis, yakni pangan, energi, dan keuangan. Oleh sebab itu, khusus di bidang pangan, pihaknya berfokus pada penguatan ekosistem yang terintegrasi hulu ke hilir.

“B2SA sendiri, merupakan singkatan dari beragam, bergizi, seimbang, dan aman, sebuah konsep pangan yang idealnya dikonsumsi masyarakat Indonesia. Dan untuk mewujudkan hal tersebut, BPN bekerja sama dengan berbagai stakeholder, termasuk asosiasi dan pelaku dunia usaha,” ungkapnya.

Dan untuk mendukung gerakan ini, Diamondfair berpartisipasi dengan mengikuti bazaar sehat yang digelar dalam acara tersebut. Bersama puluhan brand pangan lain, Diamondfair membuka tenda guna menyediakan produk susu yang membawa nilai gizi tinggi untuk konsumen yang hadir.

Acara yang dihadiri ratusan pengunjung ini, menampilkan Liza Natalia sebagai instruktur senam pagi, cooking demo bersama Chef Axhiang, Chef Muto, tari-tarian daerah dan sesi dongeng anak bersama kak Dwi Kanfas.

Aktif Gelar Bazaar
Melissa Huang, Direktur Diamondfair menjelaskan, pihaknya terus mendukung gerakan minum susu, dan berharap jangan sampai budaya tersebut mengendur. Misalnya karena dampak dari ketakutan masyarakat, karena merebaknya wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

“Salah satu caranya, kami aktif terlibat dalam berbagai acara bazaar dan menjual susu dengan harga murah, agar masyarakat bisa memperoleh produk kami dengan harga terjangkau,” ujar Melissa.

Dikutip dari data Kementerian Pertanian per 10 Juli 2022, dinyatakan dari 329.829 hewan ternak yang terjangkit PMK, mayoritas 97% adalah sapi. Hal ini tentu berpengaruh pada industri pengolahan susu, seperti yang dirasakan Diamond Group, salah satu produsen susu sapi terbesar di Indonesia.

Dampaknya, hal ini membuat volume pembuatan susu mereka berkurang 30-40 persen dari produksi normal. Terlebih suplai susu Diamond datang dari Jawa Timur dan Jawa Barat yang terdampak PMK.

Karenanya, Diamond terus menjaga kualitas susu dengan cara mensortir ketat pasokan susu yang masuk agar sesuai persyaratan mutu yang ditetapkan. Meski dari sisi bisnis, mereka membutuhkan pasokan, namun pihak manajemen berprinsip segala sesuatu yang berdampak negatif bagi konsumen harus ditolak.

Melissa menjelaskan, konsumen tidak perlu takut mengonsumsi produk susu Diamond, sebab aman karena telah melewati uji kelayakan yang ketat. “Produk kami melewati proses sterilisasi menggunakan metode UHT (Ultra High Temperature) dengan suhu minimal 137 C, sementara untuk fresh milk minimal 110 C, sehingga aman dikonsumsi masyarakat,” ujarnya.

Yang terdekat, tambahnya, Diamondfair sendiri akan mengadakan Super Bazaar untuk warga Jakarta, lewat Diamondfair mereka yang ada di Ancol, Jakarta Utara, pada 2 Agustus 2022.

“Dalam bazaar ini, kami memberi potongan harga untuk susu UHT dan fresh milk serta produk olahan susu lainnya. Informasi lebih lengkap, konsumen bisa mengikuti Instagram kami di @diamondfair.indonesia,” tutup Melissa. (cit/ric/dsn-3)

Related Posts

Tinggalkan Komentar