Home » Antara Kepuasan Seksual dan Persalinan Normal

Antara Kepuasan Seksual dan Persalinan Normal

oleh Puri

Sebagian wanita berpikir bahwa melahirkan dengan proses normal dapat mempengaruhi kepuasan seksual di kemudian hari, akhirnya tidak sedikit pada ibu yang memutuskan untuk operasi sesar. Benarkah demikian?

Dokter spesialis kandungan dari Klinik Health 360 Indonesia, Ivan Maurits Sondakh, mengatakan tidak ada hubungan antara kelahiran normal dengan kepuasan seksual. Dalam vagina terdapat otot-otot dan hormon yang dapat membuat organ dan ligamen menjadi lebih rileks. Saat melahirkan secara normal, otot-otot tersebut akan melebar namun akan kembali pada posisi semula.

“Seiring berjalannya waktu akan kembali ke ukuran yang mendekati semula. Kepuasan seksual tidak bergantung pada vagina ini, kadang-kadang ada yang dipengaruhi oleh faktor psikis,” ujar Ivan belum lama ini.

Proses melahirkan secara sesar atau normal pada dasarnya ditentukan atas indikasi medis seorang ibu. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa pada saat melahirkan normal dengan kasus tertentu dapat membuat robekan lebih luas.

Ivan Maurits Sondakh

“Mungkin kalau lahiran normal ada faktor-faktor lain seperti melahirkan bayi yabg besar, atau robekan cukup luas atau otot tidak tersambung baik mungkin akan menyebabkan gangguan. Tapi secara normal kalau semua berjalan dengan baik tidak ada masalah untuk kepuasan seksual itu sendiri. Jadi jangan khawatir dia enggak akan berpengaruh,” kata Ivan.

Faktor kepuasan seksual pasca melahirkan ditentukan oleh beberapa sebab. Menurut dr Ivan yang paling banyak adalah masalah psikis.

“Setelah melahirkan dia jadi enggak percaya diri untuk melakukan hubungan seksual akhirnya timbul ketidakpuasan,” kata Ivan.

Perlu Perawatan

Pada minggu-minggu pertama setelah persalinan (postnatal period) merupakan fase kritis bagi kehidupan ibu dan bayi yang baru lahir. Pasalnya sebagian besar kematian ibu dan bayi terjadi dalam periode ini, namun justru periode ini yang paling diabaikan oleh sebagian orang.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut secara global terjadi sekitar 303 ribu kematian ibu setiap tahun dan sebagian besar terjadi setelah melahirkan. Selaim ini 1 dari 7 perempuan, mengalami depresi, kelelahan, gangguan nafsu makan atau tidur, perubahan suasana hati, perasaan kewalahan mengurus bayi dan disfungsi seksual.

“Sayangnya masa pasca melahirkan seringkali terlewatkan pada saat pemeriksaan pasca melahirkan. Padahal masa pasca persalinan adalah fase kehidupan baru bagi seorang perempuan yang perlu perawatan tersendiri,” kata Ni Komang Yeni DS, CEO Klinik Health360 Indonesia.  

Perawatan terpadu pasca melahirkan (integrated postnatal care) merupakan hal penting yang tidak boleh diabaikan. Perawatan pasca melahirkan tidak hanya mempercepat pemulihan ibu dan mencegah komplikasi setelah melahirkan, tetapi juga meningkatkan kualitas hubungan ibu dan bayi serta keluarga.

Ni Komang Yeni

Yeni memaparkan, peran suami, orang tua, teman atau support system lainnya yang dimiliki, bisa menjadi tempat untuk berbagi. Para support system ini pun harus bisa menjadi pendengar yang baik segera mendeteksi adanya perubahan yang terjadi pada ibu pasca melahirkan agar bisa segera mencarikan solusi terbaik bagi ibu.

Sementara itu Ivan Sondakh, mengatakan, pasca melahirkan pada ibu diharapkan melakukan pemeriksaan antara 3 minggu pertama persalinan, dan pada 12 minggu setelah melahirkan. Dengan pemeriksaan tersebut  dapat diketahui adanya tanda-tanda terjadinya masalah pasca melahirkan.

“Tidak hanya mencegah kematian, tetapi memprioritaskan perawatan dan kesejahteraan yang berpusat pada kualitas hidup individu, seperti kesehatan fisik, emosional, dan psikologis terbaik baik untuk Ibu dan bayi,” ungkap Ivan.

Sedangkan Patricia Halim Puteri, menjelaskan, terdapat beberapa perubahan pada fisik ibu pasca melahirkan, yaitu perubahan berat badan, perubahan bentuk payudara, perubahan pada uterus, vagina dan vulva, menjadi sulit menahan buang air kecil, muncul stretch mark pada bagian tubuh tertentu serta kerontokan rambut.

Patricia Halim Puteri

“Oleh karenanya perawatan pada masa postnatal bersifat holistik. Dokter spesialis Gizi Klinik kami lebih mengutamakan kesehatan ibu dan tidak menyarankan diet ketat tanpa pengawasan dari dokter spesialis gizi klinis selama proses pemulihan,” ujar dia.

Dampak diet ketat dapat mengurangi produksi air susu ibu (ASI), pemantauan penurunan berat badan yang terarah sesuai dengan kebutuhan metabolisme ibu yang menyusui dan adanya penyembuhan luka operasi atau jahitan jalan lahir pasca melahirkan. (hb/DSN-3)

 

 

Related Posts

Tinggalkan Komentar